Karna-Karno; dua nama yang sama. Berbeda zaman. Ia kenal keduanya. Satu dari dongeng Simbok—tentang seorang anak kusir berdarah dewa yang dibuang ibunya. Satu dari buku Sejarah yang SD pun ia tak tamat. Tentang seorang raja penuh karisma dan puja-puji, tapi ternyata tak mampu meluluhkan kemiskinan yang membuat Karno kecil sempat hanya mengecap ubi. Setidaknya Karna masih lebih lumayan, ia seorang kusir kuda. Figur gagah, sang pemanah dengan otot yang barangkali sekal dan pampat. Karno kini juga bergelut dengan kuda. Sayang kuda-kudanya adalah besi bercat warna-warni yang kini penuh karat, tunggangan bocah di pasar malam dekat Ragunan.
![]() |
| Farchan Noor Rachman/ Minumkopi.com Sluuurrpp. Satu sesap kopi mampir di rongga mulut dan bekasnya tertinggal di ujung bibir. Dahi teman saya berkerut. Aneh, katanya. Sebab saat diseruput, tak ada rasa pahit yang dominan. Penasaran, saya mengambil cangkir di hadapan, membaui aroma, lalu dengan ragu, menyeruputnya sedikit. Mata saya berbinar. Ada kombinasi asam, legit, bahkan rasa seperti “arang” yang memanja lapis lidah. “Enak juga.”
“Eh, cara minumnya bukan begitu, Mbak,” seorang ibu pemilik warung kopi datang
menghampiri sambil mengantarkan satu botol cairan putih kental ke meja kami.
Saya yang
penasaran—sebab setahu saya cara minum kopi selalu saja sama—lalu meminta penjelasannya.
“Nah, caranya seperti ini, lho,” katanya dalam logat Jawa. Sejurus kemudian
tangannya cekatan mampir ke gagang cangkir kecil saya, mengangkatnya dari
piring yang sedari tadi menjadi alas, lalu menuang cairan hitam kental di atas
piring keramik berwarna putih-gading. “Nah,
kalau masih panas, tinggal diseruput sedikit-sedikit. Kalau langsung ‘diglek’
ampasnya malah terminum.”
“Oh iya!” sahut kami hampir bebarengan, lalu setengah
tertawa menyadari ibu tersebut benar juga. Saya memandang sekeliling. Warung
kopi ini tak terlalu luas. Tiga meja berukuran lumayan besar ditata di luar
warung. Sementara di dalam, meja dan kursi diletakkan mengelilingi si pembuat
kopi. Dari luar, warung ini memang tak terlihat ramai. Empat motor terparkir
rapi di halaman, sementara sekitar 6-8 orang berkumpul di dalam. Barangkali,
karena ini masih pukul tujuh lebih sekian.
Lasem, sebuah kota
kecamatan kecil di sebelah utara Jawa, rasanya memang tak bisa terpisah dari
kopi. Meski jejak sejarah tak mencatat adanya perkebunan atau pembudidayaan
kebun kopi—kita bisa menjumpai banyak warung kopi; besar maupun kecil, yang
tetap ramai baik siang hari maupun malam hari. Saking populernya, di setiap
desa, pasti ada lebih dari satu warung kopi.
Saya mengedarkan
pandangan ke sekeliling. Di warung kopi, pengunjung biasanya mengobrol atau
sekadar leyeh-leyeh sehabis bekerja.
Obrolannya beragam, mulai dari
pertandingan olahraga, politik, ekonomi, pekerjaan, hingga terkadang urusan
rumah. Dua orang remaja di seberang meja saya, misalnya. Sayup-sayup saya
mendengar, baru saja mereka curhat soal
kehidupan asmara!
Rasanya semua cerita pernah tertuang tanpa
sengaja di warung kopi: terbungkus lapis tipis asap ketel yang berbunyi bising
saat mendidih, mengepul, lalu hilang begitu saja..
Seni Melukis dan Jejak Akulturasi
Saya lupa
menyebutkan, bahwa saat itu kami sedang ada di warung kopi lelet, jenis kopi
khas yang bisa kita temui di Lasem. Dinamakan “lelet” karena sembari ngopi pengunjung biasanya nglelet: yakni melukis atau membatik dengan gerakan menorehkan motif di
media lukis atau dalam bahasa Jawa “dileletke”.
Tetapi tak seperti kegiatan melukis atau membatik pada umumnya, media lukis
yang digunakan adalah rokok, sementara tintanya menggunakan ampas (sering kali
disebut lethekan) sisa kopi. Tentu
saja, agar merekat, ampas itu harus terlebih dulu dicampur susu kental manis.
Saya jadi teringat, rupanya botol yang dibawa oleh ibu pemilik kedai tersebut
berisi susu kental manis yang fungsinya sebagai “perekat”, bukan sebagai
“pemanis” tambahan, seperti yang saya kira.
Dari mana asalnya tradisi nglelet ini memang belum diketahui
secara pasti. Ada yang mengaitkannya dengan tradisi membatik masyarakat Lasem
yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, ada pula yang mengaitkannya
dengan kebiasaan warga Lasem yang pergi ke warung kopi untuk sekadar mengisi
waktu luang atau mengobrol melepas penat. Sembari mengobrol, muncul ide untuk
melukiskan pola-pola di sebatang rokok sebagai kanvasnya.
Meski sebetulnya tahu proses nglelet ini lewat beberapa artikel
maupun cerita perjalanan dari situs internet, saya penasaran untuk menyaksikan
prosesnya langsung. Sedikit canggung memang, sebab saya yang bukan perokok ini
langsung diarahkan ibu pemilik warung untuk duduk dan menyaksikan sekelompok
bapak yang mengobrol ringan sembari nglelet.
Satu helai tisu diletakkan
dengan hati-hati di atas sisa ampas yang ada di piring alas cangkir. Gunanya,
untuk menyerap air yang tersisa, agar ampas tetaplah bertekstur kental dan
pekat. Tak lama, satu botol plastik kemasan saus—yang sebetulnya berisi susu
kental manis—dituangkan tetes demi tetes di atasnya. Dengan menggunakan sendok
kecil, adonan diaduk pelan-pelan, hingga tercampur rata dan teksturnya dirasa
cukup.
Untuk melukis atau menggambar
pola, pengunjung biasanya menggunakan tusuk gigi, atau korek api yang
ditajamkan ujungnya sebagai kuas. Meski mayoritas pola yang dilukiskan adalah
motif batik, terkadang, pengunjung juga menggambar pola lain. Di tengah panas
kopi pun juga kepulan asap ketel dan rokok yang memenuhi udara, tak bisa
diingkari kegiatan minum kopi di kota Lasem menjadi sebuah budaya khas yang tak
bisa ditemui di tempat yang lain. Ia punya peranan penting, dalam
mempertahankan keutuhan warga Lasem yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun
lalu. Tak peduli suku, agama, maupun ras, di warung kopi—etnis Jawa maupun
Tionghoa yang sudah lama hidup berdampingan dengan harmonis berinteraksi dan
berbagi cerita.
Penasaran, saya bertanya,
adakah perbedaan antara rokok sebelum dan setelah dilelet. Apakah jadi beraroma
kopi atau justru terasa seperti kopi?
“Ya,
rokoknya jadi lebih nikmat dihisap. Ada rasa dan aroma kopinya,” kata seorang bapak sambil menyalakan satu
batang rokok hasil nglelet yang sudah
kering. Memang agak sulit, tambahnya
lagi. Sebab ampas kopi yang menempel mengakibatkan rokok jadi berat saat
dihisap dan susah dibakar. “Mbaknya mau
coba, tho?” katanya bercanda.
Kami tertawa. Tanpa disadari,
pembicaraan jadi berlanjut tentang asal-usul kami, tujuan kami datang ke sini,
dan segala pembicaraan lain. Status kami yang semula hanya “orang asing” pun
mencair. Menguap jadi satu bersama kepulan asap rokok yang membumbung tinggi,
lalu hilang di udara.
Antara Kopi, Rokok, dan Lelaki
“Nyobain kopi lelet, yuk!”
Tiba-tiba dua
teman saya, yang merupakan warga asli Lasem saling berpandangan. Kikuk, tapi
mengiyakan. Saya yang menangkap keanehan itu dari ekor mata tergoda untuk
bertanya. “Lho, kenapa memangnya?”
“Nggak apa-apa. Yuk!” sahut mereka berdua, sambil mengambil kunci
motor dan menyalakan mesinnya.
Dibonceng salah
satu teman, saya melintasi jalan yang penuh dengan truk-truk pengangkut besar,
khas jalanan Pantura. Maklumlah, jalan utama di kota Lasem memang masih sejalur
dengan Groote Postweg—salah satu rute
jalan besar yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Dari sejarah kita
tahu, pembangunannya digagas oleh Gubernur Jenderal Willem Daendels, dengan
sistem paksa atau kerja rodi.
Di kanan kiri
saya, lampu-lampu kuning kendaraan berpendar. Bangunan tua berjejer bisu.
Sebagian masih dihuni, namun sebagian lagi tidak—sering kali jadi pangkalan warung tenda penjual makanan,
atau justru warung kopi. Dari dalamnya, neon bercahaya putih-kuning memancar,
terang sekali.
Setelah mampir
terlebih dulu ke toko batik, akhirnya kami sampai di salah satu warung. “John
Kopi Lasem”, namanya. Seperti yang sudah kita tahu, di Lasem, jumlah warung
kopi sendiri bisa puluhan jumlahnya. Ada beberapa warung kopi yang terkenal,
namun teman saya mengatakan: tempat ini salah satunya.
Seluruh
pengunjungnya adalah laki-laki. Tak ada perempuan, kecuali istri pemilik
warung. Secangkir kopi disajikan—harus melalui proses terlebih dahulu, yang
berbeda dari biasanya. Kopi dan gula dituang dalam panci, lalu ditambahkan air
panas. Itu pun belum siap diminum. Campuran ini harus kembali dimasak hingga
benar-benar mendidih. Agar semakin nikmat dan beraroma sedap, beberapa warung
kopi bahkan menjerang campuran ini dengan kayu bakar.
Sama seperti kopi
lainnya, kopi Lasem berjenis Arabica. Namun, proses pembuatannya lebih rumit.
Saya baru tahu, biji kopi yang dibeli (umumnya di pasar) harus disangrai
terlebih dulu sebelum akhirnya digiling. Proses penggilingan tak cuma satu
kali. Melainkan bisa enam hingga delapan kali. Tak heran, tekstur akhir bubuk
kopi terasa lembut dan halus, sehingga adonan ampas saat nglelet pun sempurna. Sayangnya, hal itu bukanlah tanpa risiko.
Semakin banyak proses penggilingan dilakukan, semakin banyak risiko massa kopi
susut atau terbuang.
Satu cangkir kecil
kopi lelet dihargai Rp2.000 saja. Biasanya, pengunjung bisa meminum 1 hingga 2
gelas—bahkan lebih dalam satu hari. Tak heran. Apalagi begitu tahu, betapa
mengasyikkannya nongkrong, menikmati
kopi, dan mengobrol sembari nglelet.
Karena rokok, dan
kopi saling berkaitan erat. Maka, bisa disimpulkan mayoritas penggemar kopi
lelet adalah perokok. Saya pun bertanya-tanya, inikah alasan kedua teman saya
terlihat agak kaget dan canggung ketika diajak untuk menikmati kopi lelet?
Maka dalam
perjalanan pulang, saya bertanya lagi. Menurut mereka, di sana, tabu hukumnya
jika perempuan betah nongkrong lama-lama
di warung kopi (apalagi bila sambil nglelet).
“Oalah,” sahut saya yang pada
akhirnya paham mendengar penjelasan tersebut.
***
Sebelum
benar-benar beranjak pergi, kami memutuskan untuk membeli beberapa bungkus
bubuk kopi “mentah” sebagai oleh-oleh. Harganya Rp20.ooo. Bubuk kopi tadi
dikemas ke dalam plastik bening berukuran seperempat kilo, tanpa label.
Wanginya cukup menusuk, perpaduan asam dan sedikit bau arang yang pekat.
Beberapa hari
setelah sampai di rumah, saya memutuskan untuk mencicipinya lagi. Beberapa
sendok bubuk kopi lelet saya seduh bersama gula secukupnya. Aneh, rasanya tak
sama, sekalipun ritual “menuang kopi di piring alas cangkir” tetap saya
lakukan. Barangkali karena prosesnya salah. Atau barangkali, karena kopi Lasem
memang seharusnya dinikmati di tempat asalnya; sembari mengobrol dan nglelet? Mungkinkah ini salah satu tanda agar saya kembali lagi ke sana?
Ah, entahlah.
*Tulisan pertama kali dipublikasikan di Phinemo
|
![]() |
| http://media.viva.co.id/thumbs2/2015/10/05/340564_badak_663_382.jpg |
Satu ekor Badak Jawa berdiri kaku. Dari balik etalase bingkai
kaca, ia memandang lurus ke depan. Kulitnya hitam-legam, matanya tanpa nyawa;
tanpa ucap. Barangkali karena memang, ia tak pernah sempat bicara—sejak sebutir
peluru Mauser kal 9.3 menembus kulitnya yang tebal; seperti tameng
baja—berpuluh tahun lalu...
Para petugas
museum tak punya pilihan. Menembak mati badak jantan adalah jalan—ketimbang
membiarkannya hidup sendirian dan menderita. Kelak, solusi ini pun dianggap
mampu memberi sumbangsih bagi ilmu pengetahuan. Satwa langka berbobot lebih
dari dua ton, memiliki panjang sekitar tiga meter, dan tinggi 1,5 meter ini
akhirnya diboyong ke Pusat Penelitian Biologi LIPI. Kini, kita bisa menemukannya
utuh—dalam “rumah” yang tak lebih dari sebuah kotak kaca di Museum Zoologi,
Bogor.
Ada kisah
tragis terselip di tengahnya, pada secarik keterangan bertulis: “Inilah badak terakhir di Jawa Barat, badak
terakhir di Priangan”. Badak jantan itu berasal dari daerah Karangnunggal,
Tasikmalaya. Badak—hewan penyendiri yang dikenal sebagai “si pemelihara” ini
rupanya harus kehilangan si betina, yang dibunuh oleh para pemburu ilegal di
tahun 1914. Tanpa pasangan dan sebatang kara; tak mungkin ia yang tersisa, dipindah
ke Cagar Alam Ujung Kulon atau kebun binatang sekalipun. Apalagi, sudah lama
sekali ia hidup terpisah dari kelompoknya. Ketidakmampuannya menggabungkan diri
dan beradaptasi dengan habitat baru dikhawatirkan justru membuatnya menderita
atau mungkin, bernasib sama seperti si betina.
Perburuan
badak sendiri memang bukan hal baru. Banyak alasan maupun mitos yang
melatarbelakanginya, yakni: kulitnya yang “baja” dibuat perisai; cula yang amat
berharga untuk pengobatan, hingga status “keperkasaan” yang langsung melekat
seketika bagi para pemburu hewan langka ini. Akibatnya, kini populasi badak
menurun drastis. Dari 30 jenis, satwa langka yang sudah ada sejak zaman tertier
(sekitar 65 juta tahun lalu), sekarang hanya tersisa lima spesies. Dua di
antaranya, ada di Indonesia, yakni: Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicherorimus sumatrensis)
Sayangnya
kita harus tahu: kedua jenis ini pun masih dikategorikan dalam status
kritis-terancam punah (critically
endangered species) dalam Daftar Merah International
Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Abah Gede, Tak Perlu Lagi Takut Diburu
Di atas jalanan tanah berlumpur, beberapa ekor badak baru
saja meninggalkan jejak-tapak yang masih bau basah. Di sekitarnya, ada sisa
dedaunan robek, bekas tercabik. Para penjaga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
bersuka cita. Jejak-jejak itu seakan bicara: ada penghuni baru telah lahir di
penghujung Juli 2006!
Tak banyak
yang mampu melihat atau merekamnya langsung, sekalipun itu 16 kamera otomatis
yang dipasang permanen di TNUK. Abah
Gede—sebutan masyarakat sekitar untuk Badak Jawa—memang istimewa. Berjumpa
atau sekadar melihatnya melintas, tentulah dianggap sebagai sebuah
keberuntungan.
Barangkali
karena memang sudah sifat badak yang penyendiri. Kecuali pemburu—secara
alamiah, Badak Jawa tak punya predator. Indera pendengaran dan penciumannya
tajam; bahkan mampu merasakan keberadaan musuh, meski dalam kondisi yang tak
memungkinkan sekalipun. Biasanya, badak cenderung menghindari manusia, meski ia
bisa juga bertindak agresif bila merasa terganggu. Culanya sendiri jarang
digunakan untuk bertarung, melainkan hanya untuk memindahkan lumpur di
kubangan, menarik tanaman, atau membuka jalan rintisan.
Memang,
berkat sosialisasi yang marak digalakkan, tak lagi ada perburuan badak dalam
beberapa tahun terakhir. Tetapi, tak berarti masalah tuntas sudah. Beberapa
penelitian mencatat: Badak Jawa tak bisa hidup di sembarang tempat. Upaya
penangkaran badak di tahun 1800-an hingga 1907, misalnya: tak membuahkan hasil
signifikan, bahkan semakin buruk. Penyebabnya, harapan hidup badak di
penangkaran justru berkurang, yakni hanya mencapai usia 20 tahun, kira-kira
separuh dari usia yang bisa dicapai bila badak hidup di habitat aslinya.
Adapun ancaman
terbesar tak lain adalah tingkat perkembangbiakannya yang cenderung lambat.
Dalam interval empat hingga lima tahun, badak betina hanya melahirkan satu
ekor. Itu pun dengan masa kehamilan 15-16 bulan. Persoalan lalu bertambah,
semenjak berkurangnya keragaman genetis akibat populasi badak yang sedikit.
Terjadinya perkawinan satu turunan berisiko menurunkan kualitas anak-anak
badak, dan justru membuat spesies ini rentan ketika harus menghadapi wabah
penyakit, atau bencana alam.
Secara
alamiah, badak tergolong sebagai makhluk herbivora. Dengan bobot dan
besarannya, ia mampu makan 50 kg per hari ragam jenis tumbuhan seperti: tunas,
ranting, daun-daun, dan buah. Masalah muncul ketika habitatnya tak lagi mampu
mencukupi kebutuhan konsumsi badak. Invasi tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia) tak diingkari sudah
menggantikan hampir 30 persen habitatnya—di semenanjung Ujung Kulon. Ditambah
lagi, sebagian besar pakan badak rupanya serupa dengan banteng (Bos javanicus)—sehingga mengharuskan
mereka sama-sama berkompetisi untuk mendapatkan makanan.
Sementara itu, data terakhir World Wildlife Fund for Nature (WWF) menyebutkan, populasi Badak Jawa di TNUK kini tinggal 60 ekor (jantan:
33, betina: 27) dan Badak Sumatera tinggal 200 ekor. Bila terus begini,
masihkah kita ingin berdiam?
Rumah Terakhir Badak dalam Kotak Kaca?
Tahunan
berjalan, upaya observasi dan penelitian masih terus dilakukan untuk mencari
rumah kedua yang nyaman bagi badak. Banyak pihak; meliputi: WWF, Departemen
Kehutanan, Balai Taman Nasional, masyarakat lokal, maupun komunitas pemerhati
masih terus mengkaji kemungkinan yang ada—mengikuti jejak Afrika dan India,
terutama soal kesuksesannya meningkatkan populasi badak secara signifikan,
melalui perancangan “rumah kedua”.
Masalahnya,
selain dua ancaman yang sudah disebutkan; TNUK yang kini menjadi tempat badak
berdiam pun bukanlah tempat yang aman. Berdekatan dengan Gunung Krakatau yang
masih aktif, lokasi TNUK tentulah rawan ancaman tsunami maupun gempa bumi.
Itu belum
termasuk risiko badak terjangkit penyakit—mengingat bagian timur TNUK
berbatasan langsung dengan perkampungan masyarakat yang umumnya memiliki
ternak. Sistem “pelepasan” hewan ternak untuk mencari makan tentu akan
meningkatkan potensi penyebaran dan penularan penyakit dari hewan ternak ke
satwa liar. Adapun salah satu penyakit paling mematikan adalah anthrax—yang dampak penyebarannya
tergolong tinggi.
Sebagai
langkah penanggulangan risiko, setidaknya delapan lokasi “calon rumah” badak
sudah disurvei. Dari delapan (termasuk di antaranya Taman Nasional Halimun,
Gunung Salak, Jawa Barat) lokasi itu kian mengerucut menjadi dua: Cikeusik,
Pandeglang yang dikelola Perhutani, dan Cikepuh, sebuah taman margasatwa yang
berada di Sukabumi.
Lantas, bagaimanakah kriteria rumah badak yang ideal?
Syarat
pertama, suatu tempat haruslah bisa menyediakan sumber makanan yang berlimpah
dan tentunya: bebas dari risiko bencana serta kehadiran manusia. Indikatornya,
daerah tersebut haruslah berupa hutan hujan dataran rendah. Ketersediaan
rerumputan, sungai, dataran basah, dan tentunya kubangan lumpur menjadi
kriteria lanjutan, di mana badak bisa hidup nyaman. Cikepuh misalnya—yang
dipilih karena lokasinya berkontur bukit, terisolir dari keramaian, serta punya
potensi spot yang bisa dijadikan
kubangan air.
Memang, bukan
perkara mudah untuk mencari rumah kedua bagi badak. Selain harus menyeleksi
secara ketat, ada banyak risiko yang tak bisa diingkari, seperti: kegagalan
proses pemindahan; badak yang stres selama masa perpindahan; atau paling buruk:
ketidakmampuan badak dalam beradaptasi hingga akhirnya mati. Namun, bukan
berarti tak mungkin dan tak bisa dilakukan.
Pada
akhirnya, menjaga kelestarian badak sendiri bukan cuma tugas pihak TNUK,
Departemen Kehutanan, Balai Taman Nasional, atau komunitas pemerhati—melainkan
kita semua. Bayangkanlah, jika suatu hari kelak, mungkin anak-cucu kita hanya
bisa mendengar badak dari dongeng belaka, menyaksikannya dari balik etalase
kaca, atau justru paling banter...memahami
rupanya dari kemasan minuman penyegar.
Apakah kita mau? Relakah kita?
Adapun dengan
menyosialisasikan pelestarian badak—membiarkan seluruh komponen masyarakat
memahami manfaat dan risikonya—bukan tak mungkin segala cara akan menemukan
hasilnya. Jangan sampai, seluruhnya ternyata hanya tinggal wacana yang
terus-menerus digaungkan dalam rangka memeringati Hari Badak Sedunia, tiap 22
September.
*Tulisan ini diikutsertakan
dalam lomba menulis Cerita Anda dengan tema "Bagaimanakah
Rumah yang Nyaman Untuk Badak?"
![]() |
| http://www.viewbug.com/album/8541/photo/519443 |
Hujannya
orang meninggal, Nak.” Ibu menggumam pelan. Cucian yang baru saja
dijemur pukul sepuluh, tak serta merta ia angkat dan selamatkan. “Nanti juga
berhenti, hujan cuma bertugas mengingatkan.”
Hujan yang mengingatkan. Pada
kenyataannya,
aku lebih suka bila hujan hari ini tak usah berhenti saja. Lihatlah,
kemarau ini terlampau panjang. Agustus yang panas. Kering, kerontang. Seperti
halnya dengan suka, apakah duka pun perlu diingatkan? Agar apa? Ibu bilang,
agar manusia tak punya waktu berlebih untuk bahagia, sekaligus
nelangsa. Tapi mengapa? Suatu hari pernah kutanyakan hal itu, namun ia menahan
mulutku sambil berkata: tak boleh kita manusia mempertanyakan tuhan.
Maka aku menelan semua pertanyaan itu bulat-bulat.
Tak lagi kucerna, karena konon katanya mencerna pertanyaan hanya akan
mengantarkanmu pada pertanyaan berikutnya. Sebab bila kau tak puas akan satu,
maka jadilah dua. Tak puas lagi, jadilah tiga, hingga berlipat kali
banyaknya.
Tapi bukankah memang benar, sebab pepatah pun berkata: sudah pada dasarnya
manusia takkan pernah puas?
Sungguh,
bila kata “mengapa” adalah mantera, maka percayalah, aku sudah
merapalnya ribuan kali. Mendaraskannya berulang-ulang untuk
segala pertanyaan yang tak pernah bisa kutahu jawabannya. Tapi apakah itu
jawaban,
apakah itu pertanyaan?
![]() |
| http://cendikianews.com/wp-content/uploads/2014/10/Objek-wisata-planetarium.jpg |
Euforia ini terus akan berlangsung hingga puncaknya, Hari Raya Idul Fitri tiba. Kemudian sama seperti tahun-tahun sebelumnya, segala euforia ini akan musnah begitu membaca berita bahwa, pendatang—kaum urban—siap menyerbu Jakarta seusai Lebaran. Tak tanggung-tanggung, berdasarkan data yang diambil pada Agustus 2014 lalu, jumlah pemudik arus balik ini bahkan hampir mencapai 70 ribu orang!
Kenapa, sih harus ke Jakarta? Sudah penuh orang, tiap tahun masih saja terus didatangi. Apa sih daya tarik Jakarta? Kotanya macet, banjir, ruwet, panas. Belum lagi soal orang-orangnya yang nggak ramah. Banyak kasus penculikan, copet, maling, sampai bandar narkoba. Alasan apa sih yang membuat orang berbondong-bondong pergi ke Jakarta?
Saya jadi ingat, seorang teman yang tinggal di Semarang, dengan mantap mengemukakan alasan kenapa ia tak mau ikut-ikutan mencari nafkah di Jakarta, “Nggak ah, Mbak. Kotanya serem. Banyak copet-nya, tho?”
Salah satu alasan yang mungkin ia dapatkan saat banyak menonton sinetron, atau berita kriminalitas di jam makan siang. Saya sendiri tak punya cukup argumen untuk menyanggah dan hanya bisa menjawab, “ya, copet kan ada di mana-mana, Mbak.”
Di balik segala ketidaknyamanan yang ada, tak diingkari, butuh waktu yang tak sebentar untuk jatuh cinta pada Jakarta. Beragam jenis keruwetannya seolah menjadi akar masalah yang menjadikan kita—terutama saya yang nggak suka hiruk-pikuk keramaian—pernah ingin buru-buru minggat. Ketimbang lama-lama di Jakarta, senang rasanya membayangkan hidup di kota-kota kecil di lereng pegunungan yang sejuk, sepi, dengan masyarakat yang setiap hari mengumbar senyum. Tak perlu grasak-grusuk mengejar angkutan atau berdesak-desak berdiri di dalam angkutan sambil sesekali memaki dan dimaki orang. Segalanya bisa dilalui dengan tenang, waktu pun bisa dimanfaatkan dengan maksimal, tanpa perlu menghabiskan sia-sia di jalan (ini tidak mutlak, hanya berdasarkan pengamatan sehari-hari).
Tetapi, rasa tak suka dan keinginan besar minggat dari kota padat Jakarta, benarkah sungguh-sungguh ada? Benarkah kita sungguh-sungguh membenci Jakarta?
Saya jadi ingat tentang sebuah perjalanan saya ke Jawa Timur, sebulan lamanya. Tinggal di sebuah kota kecil, di mana banyak barang-barang vital, sulit didapat. Untuk pergi ke kota dan membeli keperluan—seperti charger handphone yang tiba-tiba rusak—saja, butuh waktu kira-kira 45 menit – 1 jam dengan mengendarai motor. Sekilas, memang bukan waktu yang lama, mengingat sudah umum rasanya bila di Jakarta, kita wajib mempersiapkan waktu sekurang-kurangnya 1 jam untuk menjangkau tempat, sekalipun tempat itu sama-sama berlokasi di Jakarta. Namun, mengingat di tempat tersebut tidak ada macet, maka jarak tempuh yang harus dilalui, lumayan!
Saat dahulu saya lelah berpanas-panasan mengitari Jakarta, saya pun tinggal masuk ke mal atau ngadem di minimarket. Belum lagi jika tiba-tiba saya ngidam makanan fastfood. Bila terkendali karena waktu dan jarak yang jauh, tak akan ada sistem delivery order di sini. Apalagi Gojek, atau Grabtaxi yang bisa dipesan hanya lewat usapan jari. Hiburan seperti konser atau pagelaran seni jadi kemewahan tersendiri. Tentu saja, ada pasar rakyat—dengan kemeriahan komidi putar—sebagai penggantinya. Tapi, tetap saja sensasinya berbeda. Maka pelarian terakhir saya mencari hiburan adalah dengan berselancar di dunia maya. Jika ada waktu kosong, jadilah saya langganan keluar-masuk warnet. Itu pun harus banyak-banyak bersabar sebab internet yang ada kadang lelet!
Pada kenyataannya, hidup di kota sepi dan tenang tak melulu baik. Maka dengan susah payah saya harus mengakui, saya kangen Jakarta. Saya kangen ngobrol ngalor-ngidul hingga malam tanpa takut sepi yang mencekam, saya kangen naik kereta, saya kangen lihat pengamen yang bernyanyi sambil pakai biola, saya kangen menonton bioskop, saya kangen makan fastfood, saya kangen minimarket dekat rumah yang selalu jadi penolong saat keadaan jadi darurat.
Bagaimana jika kita tak pernah benar-benar membenci Jakarta? Bagaimana bila keinginan kabur hanyalah refleks semata ketika tekanan demi tekanan sedang berada di puncak-puncaknya? Mungkin kita hanya merasa lelah, penat, dan ingin keluar dari rutinitas yang sama setiap harinya. Mungkin kita hanya membutuhkan jeda, waktu berkualitas untuk diri, agar bisa kembali berenergi seperti semula.
Mungkin segalanya hanya soal memandang Jakarta dari perspektif yang belum tepat. Dan yang harus kita lakukan adalah berusaha lebih peka, untuk melihat hal-hal lain yang berbeda, namun sama indahnya.
Saya akui, Jakarta memang punya banyak keburukan yang membuatnya jadi terasa tak bersahabat, semisal macet yang nggak ketulungan, banjir, tingkat kriminalitas, polusi mata, suara, hingga udara yang mengharuskan saya tiap hari pakai masker, individualitas tinggi di tengah kumpulan orang yang ramai semacam cendol, hingga kombinasi panas menyengat yang sesekali mampu bikin emosi jadi meningkat. Tapi sesungguhnya, Jakarta juga menawarkan banyak cara bagi kita untuk memaafkan itu semua dan sekali lagi, merasa jatuh cinta.
Jangan lupa, Jakarta yang memaksa kita jadi manusia tangguh. Harus bangun pagi-pagi untuk mengejar kereta atau angkutan umum lain agar terhindar dari macet, berdesakan dengan massa yang berjejal hanya karena takut terlambat, kita terbiasa untuk jadi manusia tangguh yang nggak mau menyerah pada keadaan. Jangan lupa juga, ritme kerja yang serba cepat, memaksa kita memaksimalkan kerja otak. Cari dan gali terus ide kreatif. Membuat kita jadi peka—sebab banyak hal indah bisa ada di mana saja.
Serupa ibu, tak bisa disangkal, Jakarta yang menghidupi kita. Ialah sumber energi kita. Jakarta seperti rumah, tempat di mana memori indah, seperti keluarga, teman, sahabat, pengalaman, dan pelajaran berharga berdiam di sana. Betapa pun jauhnya kita sudah melangkah pergi, mereka selalu ada, menjadi tempat berpulang yang ramah, di tengah dunia luar yang kadang terasa amat garang.
Jakarta adalah tangan-tangan setia yang menopang para pemimpi agar tak berhenti berusaha. Di berbagai penjuru Jakarta, jutaan orang bekerja siang-malam untuk menghidupi keluarga maupun dirinya sendiri. Dari bapak penjual asongan hingga pejabat kelas atas, masing-masing berjuang, bergelut dengan mimpi akan kehidupan yang lebih baik. Dan ketika sukses kelak, mereka akan pulang dan menceritakan mimpi-mimpi yang sudah terwujud dengan mata berbinar. Ini bukan lagi soal nominal, Jakarta adalah sebuah magnet—kota penuh mimpi bagi para pengadu nasib.
Maka benarlah kata seorang teman di suatu pagi, ketika saya uring-uringan karena macet yang tak hilang, lalu kelak berniat akan segera ngabur dari Jakarta: “Banyak kota cantik yang lebih sepi, sejuk, nyaman, aman, dan damai daripada Jakarta. Tapi percaya deh, dalam beberapa bulan, sebenci-bencinya lo sama Jakarta, lo tetep bakal kangen Jakarta.”
*Dipublikasikan pertama kali di phinemo.com
“Kehidupan, kematian, ditinggalkan, ataupun meninggalkan, selalu ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lawan. Terkadang ada saatnya di mana satu-satunya yang kita bisa lakukan adalah menerima, dan sadar bahwa, ada beberapa hal yang tidak bisa kita jangkau.”
Semuanya terasa sesak, ketika tubuhku kembali menyentuh ribuan tumpuk pasir dingin. Bukan karena air laut yang serta merta terminum, tapi karena aku menyadari kekalahanku, ketidakmampuanku untuk bertahan dan mencoba pergi dari bayanganmu. Kurasakan keram di sekujur tubuhku. Nafasku terengah-engah. Hidungku perih karena air yang masuk. Kumuntahkan air itu keluar, asin, sekaligus pahit. Pandanganku perlahan menjelas. Empat atau lima remaja penjaja jasa ban sewaan mengerubungiku dengan cemas. Aku mencoba bangkit dari posisi, serbuk pasir mengerubuti punggungku yang basar karena air.
“Nggak apa-apa, Kang?” Seorang anak bertopi merah memastikan keadaanku baik-baik saja. Aku terbatuk, rasanya beberapa butir pasir kutelan sudah.
“Akang teh, mau ngapain pergi dalam-dalam? Ombaknya nggak ramah, apalagi kalau buat orang baru.”
Aku masih berusaha untuk tersadar seratus persen. “Saya nggak apa-apa, tadi kalung saya jatuh, saya coba ambil, ini udah ketemu.”
Kuperlihatkan sebuah liontin merah yang tergantung di leherku. Alasan cukup logis, setidaknya untuk kumpulan remaja pantai ini.
“Lain kali, Kang, kalau ada yang jatuh atau hilang, mending direlakan saja.” Seorang remaja berbaju merah pudar menimpaliku. “Kita yang disini percaya, kalau udah milik pasti akan pulang lagi ke yang punya.”
***
Kuputuskan untuk menginap beberapa hari lagi di sini. Momentum Matahari terbenam tinggal setengah jam lagi. Semoga aku juga tidak lupa bagaimana caranya menikmati momentum ini. Semoga aku tidak lagi lupa bagaimana menghabiskan beberapa detik saja waktu di mana Matahari bergegas pulang kembali ke peraduannya.
Pada akhirnya, seperti katamu, aku sampai pada titik di mana aku bisa menerima.
Aku pulang, ke tempat di mana aku tidak perlu takut telapakku luka karena terlalu lama terjejak, ke tempat di mana aku tidak perlu khawatir terkena meriang karena riuh rendah angin pantai, ke tempat di mana aku tidak akan kehilangan sesuatupun. Bukan karena aku kutu loncat sepertimu, melainkan karena kita berdua sudah sama-sama menemukan rumah. Rumah yang sama, tempat di mana seharusnya kita berada tanpa harus merasa kehilangan apa pun.
Kau adalah bagian dari memori. Bagian dari perjalananku berproses sampai akhirnya aku kembali menemukan sesuatu yang layak kusebut sebagai rumah. Tapi hidup harus tetap berjalan, dan kali ini, akan kubiarkan kita berjalan beriringan.
Kupandangi sekotak cincin. Akan kuberikan pada orang yang harus membantuku berproses besok dan hari-hari seterusnya. Aku sudah pulang.
Hari ini saya pulang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari seseorang yang akhirnya bisa pulang, setelah bertahun-tahun mengembara di negeri asing. Hari ini saya pulang, ke tempat seharusnya saya pulang, ke tempat seharusnya saya berdiam.
Gelombang yang menabrak pantai pada akhirnya mampir di ujung celanaku. Membuatnya basah oleh air. Susah payah, aku bangkit berdiri. Memori itu datang lagi, membuat seluruh ototku tiba-tiba diserang kejut kejang, membuat jaket yang kupakai terasa sedemikian nyesak.
Kulepas pantofel pun juga dengan kaus kaki yang melekat sehari semalam. Dengan telanjang kaki, lalu menepis kekhawatiran akan sensasi meriang, kulangkahkan kaki menuju laut. Merasakan hangat sekaligus dingin yang masih sama ketika permukaan air mencapai mata kakiku. Merasakan ombak mulai menghempas lembut, membuat sensasi ‘maju-mundur’ yang kini menyambutku, seolah ia kawan lama yang merindukanku untuk datang.
Aku memejamkan mata. Lalu gelombang kecil menerjang punggung kakiku, lagi. Memori bergerak mundur.
“Teman terbaik saya adalah tempat ini. Berdiri telanjang kaki di tempat ini, lalu memandang laut, sambil membiarkan ombak menghempas, membuat saya selalu berada pada sensasi maju-mundur, yang entah kenapa membuat saya merefleksikan hidup.”
Aku memilih tidak bertanya dan membiarkanmu mengoceh hingga berbusa.
“Masa lalu dan sekarang. Sampai sekarang saya nggak ngerti, gimana caranya, hanya dengan satu sapuan, ombak bisa membawa kita bergerak maju dan mundur, membuat kita terpaksa berani untuk pergi ke zona memori lampau, lalu menggiring kita untuk memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk ke depannya.” Kau menghela nafas. “Sekarang coba kamu tutup mata kamu.”
Aku menghela nafas panjang. Sapuan ombak berhasil membawaku terhempas ke ruang gelap yang pernah kutimbun lekat-lekat. Membuatku harus menggapai-gapai, lalu menyusun potongan memori yang kusimpan dalam-dalam. Pelupukku basah lagi. Suara deburan ombak memenuhi tempat ini, angin pantai menggoyahkan pertahananku.
“Setelah itu, kamu tunggu ombak menghempas kamu.”
Satu gelombang menghempas kakiku lagi. Celanaku sengaja tak kugulung, membuat seperdelapannya basah karena ombak kali ini nampaknya lebih besar dari yang sebelumnya.
“Setelah itu, rasakanlah. Ombak akan membawa kamu mundur mengingat memori. Demi apa pun, please, jangan kamu lawan. Biarkan kamu bergerak di dalamnya. Biarkan kamu melarut menjadi satu dengan pusaran air laut. Kamu nggak akan apa-apa, nggak ada yang perlu ditakuti dari kenangan.”
Tubuhku melarut. Pikiranku mengawang dengan bebas. Kau, sepuluh tahun, pantai, iklim tropis, bocah pencari kerang, ibu penjual ikan bakar, puluhan botol kecap manis, matahari terbenam, formasi burung camar, angin pantai..
“Setelahnya, ia bakal bawa kamu maju. Maju ke tempat di mana seharusnya kamu mulai berpikir tentang hidup kamu, maju ke tempat di mana kamu harus membuat keputusan untuk nggak takut lagi pada kenangan berharga, dan memilih melanjutkan hidup kamu, yang sama berharganya.”
Sesuatu seperti memelukku lalu mengiring tubuhku yang manut untuk maju. Aku, sepuluh tahun, sepatu pantofel, jaket coklat pudar, salju, empat musim, remaja penyewa ban renang, ibu paruh baya penjual es kelapa muda, studio mini, kamar apartemen, proyek album, persiapan mini konser, undangan pernikahan..
“Sampai akhirnya kenangan nggak akan lagi menyakiti kamu. Sampai akhirnya kenangan nggak akan menjelma jadi bentuk lain kecuali sebagai ingatan dan perputaran kamu dalam berproses. Sampai akhirnya kamu tahu, bahwa kamu tetap harus melanjutkan hidupmu sendiri, dan sadar, nggak ada yang perlu ditakuti dari mengingat kenangan.”
Genangan itu tumpah lagi. Sesuatu seperti menghantam dadaku hingga terjengkang sesak. Segera, Aku membuka mata. Laut terlihat seperti biasa. Ombak yang baru saja meluluhlantahkanku kembali menjelma menjadi bentuk yang biasa. Badanku gemetar. Tiba-tiba aku merasa sangat marah. Kulangkahkan kaki menuju laut. Kuputuskan untuk melanggar zona amanku. Kuputuskan untuk mendobrak gerbang perbatasan kastil misterimu. Laut tidak berhak membuatku remuk redam, laut tidak berhak membuatku membatu lalu hancur berkeping-keping.
Aku terus berjalan, sesekali memukul-mukul ombak yang menghalangi jalanku. Celana jeans-ku sudah basah dengan sempurna, begitupun dengan lengan kemejaku yang tak kugulung. Marahku menjadi, karena semakin aku berjalan, ombak akan semakin bernafsu mengembalikanku ke daratan. Kubuang peduliku. Harus kutemukan pintu keluar dari kastil misterimu.
Air sudah setinggi pinggang. Aku terus bertahan dan melanjutkan perjalananku. Langkah demi langkah kutempuh kembali, meskipun semakin lama, makin menyesakkanku. Membuatku menjadi semakin sulit bernafas. Sulit bergerak.
Tapi aku sudah terbiasa dengan nafas sesak, dengan kaku kaki ketika menjejak. Sepuluh tahun kuselami hidup menjadi orang asing, sepuluh tahun kubiarkan hidupku menggapai-gapai di tempat yang dengan susah kujejak, di atsmosfer yang dengan nyesak kuhirup. Kau tidak tahu, wahai ombak.
Kau tidak pernah tahu kan bagaimana aku harus terbiasa menjejak di tempat asing, lalu tidak punya nyali untuk segera beralih? Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya terlalu lama menghirup atmosfer yang menyesakkan paru-paru, dan ketika sudah kembali ke habitat asal, aku malah ingin segera kembali pada gelembung hampa udara?
Kau tidak pernah tahu bagaimana susah bagi yang kehilangan untuk merelakan, seolah tidak pernah kehilangan apa-apa, dan kau tentu tidak tahu, betapa mudah jika aku harus membuatmu yang gantian terjengkang setelah bertahun lalu kau coba menipuku dengan ilusi fatamorgana bernama: kenangan.
Kenangan itu menyakitkan, dan dia tidak akan berhenti hingga kau terjengkang lumpuh sampai mampus.
Ombak masih terus menghempasku. Aku masih bertahan. Kulangkahkan terus kakiku menantang arus. Menantang ombak. Tapi laut semakin keras kepala. Semakin aku maju, semakin besar pula upayanya untuk mengembalikanku ke daratan.
Air sudah setinggi dada. Dan ombak yang menghempasku semakin lama terasa semakin ganas.Aku tak peduli. Aku hanya ingin melihat pintu keluar itu. Tapi kemudian ombak datang lagi, menabrak seluruh pertahananku, membuatku kembali kehilangan kekuatan.
Aku dihempas kembali ke daratan.
***
Deburan ombak yang memecah bibir pantai menjamah punggung pantofel hitamku. Hangat sekaligus dingin. Aku sendiri tidak pernah mengerti mengapa ombak bisa memberikan dua sensasi yang berbeda dalam hitungan detik. Kau pernah bilang, lautan adalah misteri, sementara pantai, berdiri dengan bias seolah ia penjaga pintu gerbang misteri agar tak sembarang orang mampu masuk ke dalamnya.
Pantofelku sengaja tak kulepas. Sudah kulupa bagaimana harus aku menjejak di atas pecahan-pecahan karang yang kini bertransformasi sebagai pasir. Pun juga dengan jaket coklat muda tebalku yang warnanya memudar termakan usia. Sepuluh tahun lamanya aku tak terbiasa dengan iklim tropis, sehingga aku khawatir riuh rendah angin pantai akan membawaku pada sensasi meriang dua hari yang merepotkan.
Aku memandangi sekitar. Waktu yang berjalan membuat segalanya perlahan berubah. Kau pernah bilang, bahwa tidak ada gunanya bertahan terjejak di tempat yang sama ketika di sekelilingmu justru berpindah, meninggalkan, lalu mencari tempat yang lebih baik lagi untuk berlabuh. Sifat dasar manusia, katamu lagi. Berpindah tempat mencari yang lebih baik adalah sifat dasar manusia sejak zaman purba.
Begitupun di sini. Sepuluh tahun dengan sadar kutinggalkan tempat ini setelah dibuatnya remuk redam, perlahan tempat ini berubah. Sampah di mana-mana, sementara kerikil serta pasir favoritmu kini turut bergabung dengan pecahan beling dan botol plastik. Ibu paruh baya penjaja jasa mengepang rambut bilang padaku, seorang jutawan tengah membeli hak milik pantai ini lalu mengubahnya jadi objek wisata umum yang bisa dikunjungi banyak orang. Menyebabkan, kini, asal kau tahu, anak-anak pencari kerang kesukaanmu itu sudah berpindah profesi menjadi penyedia jasa sewa ban, berikut juga dengan banana boat serta perahu nelayan.
Banyak yang sudah berubah. Kukira aku pun demikian. Rambutku yang selalu rapi kini kubiarkan sedikit panjang. Bertahun sudah, akhirnya aku merasa jengah dengan trigonometri, ratusan rumus hitungan, sampai akhirnya menemui apa yang bisa kusebut sebagai pelabuhan terakhirku, tempat di mana seharusnya aku bermuara, musik. Kukumpulkan uang hasil jerih payahku hanya untuk memberi peralatan bagi sebuah studio kecil di ujung kamar apartemenku. Tidak megah, tapi cukup membuatku bisa terburu-buru pulang ke kamar lalu membenamkan sebagian aktivitasku di sana.
Bukankah kau pernah bilang, terkadang seseorang harus mencoba keluar dari zona amannya untuk mendapatkan dirinya kembali?
Maka dari itu kuputuskan untuk keluar dari zona amanku. Pergi ke tempat di mana bukan lagi iklim tropis yang kuhirup. Aku pergi ke tempat asing, di mana tidak kutemui satu pun yang kukenal, satu pun kebiasaan yang kuanggap akrab, satu pun makanan yang cepat cocok dengan puluhan naga di perutku yang harus diberi makan. Tapi katamu, asing atau tidaknya hanya masalah waktu. Oleh karena itu, aku berusaha. Kau tidak pernah tahu bahwa sedemikian susah aku berusaha agar bisa terbiasa, hingga saat akhirnya aku harus kembali, giliranku yang kini merasa asing.
Semilir angin meraba tengkukku. Kurapatkan jaket pudarku. Aku berdiri di bias batas lautan sana yang menantangku dengan angkuh. Pandanganku mengawang. Sesuatu yang mati-matian lama kutolak mendadak muncul di tempat ini. Ada sesuatu yang hangat di pelupuk mataku. Pipiku panas. Memori itu muncul lagi, datang membawa seseorang yang bertahun-tahun berusaha kulenyapkan.
“Oke, jadi kamu bilang bahwa semua hal pasti akan kembali ke rumahnya. Yang saya ingin tanya adalah, gimana kamu bisa menemukan rumah kamu sendiri kalau kerjaan kamu cuma loncat ke sana-ke mari kayak semacam kutu?” Rasa penasaranku tidak terbendung. Sebuah pertanyaan mengganggu privasi keluar lagi dari mulutku.
“Hahaha, percaya deh, saya juga nggak tahu.” Kau menjawabku santai. Sambil meneguk segelas es kelapa muda, matamu kemudian mengawang, menatap angkasa penuh puluhan camar berformasi dalam perjalanan pulangnya. “Tapi suatu saat saya yakin, saya akan pulang. Pulang ke tempat di mana seharusnya saya berada, hingga saya nggak perlu menclok sana menclok sini, pulang ke rumah yang benar-benar rumah, di mana saya nggak harus merasa kehilangan ketika banyak hal pergi.”
Mataku menyipit. Puluhan burung camar sudah menghilang dari jarak pandangku. Membuat mereka seolah tenggelam di balik lautan yang membiru memantulkan angkasa. “Kehilangan itu wajar. Terkadang kamu nggak perlu takut. Tapi saya juga percaya kok suatu saat kamu pasti pulang. Pulang ke tempat yang akan kamu sebut itu sebagai rumah, ke tempat di mana kamu tidak perlu lagi merasa asing.”
Gelontor itu turun sudah tanpa dikomando. Aku jatuh terduduk di atas pasir. Sepuluh tahun lamanya aku bertransformasi menjadi sesuatu yang bukan diriku sendiri. Sepuluh tahun sudah aku berusaha ikut sepertimu, menjadi seekor kutu loncat agar bisa melepaskan bagian tersulit dari hidup: merasa kehilangan, karena tak rela menerima kenyataan bahwa kau sudah sampai pada rumahmu sendiri. Kau tidak pernah tahu rasanya, karena bagimu, kau tetap sebagai kutu loncat. Dan kutu loncat tidak akan meninggalkan dan ditinggalkan apa-apa.
“Saya nggak habis pikir. Kamu tahu nggak, satu dari sekian banyak hal aneh di dunia adalah ketika orang yang tiba-tiba bisa membuat, lalu mengaransemen apapun jadi sebuah lagu, malah menghabiskan waktu hidupnya jadi ahli matematika yang tiap saat kerjaannya cuma ngeribetin diri sendiri dengan menghitung sesuatu yang seharusnya nggak dihitung.”
Aktivitasku memukul lima sampai tujuh botol kecap manis berhenti. “Asal kamu tahu, begini yang namanya hidup. Ada banyak hal yang kamu mau tapi nggak bisa kamu dapat, ada banyak hal juga yang bisa kamu dapat tapi bukan yang kamu mau. Lagipula, ini bukan selamanya, ya. Saya bakal keluar dari ini begitu dapat pekerjaan lain yang bisa lebih mencukupi hidup saya ketimbang jadi musisi kere yang idealis.”
“Terus kapan ‘pekerjaan lain’ itu datang kalau kamu bahkan nggak bergerak sedikitpun dari ‘zona aman’ hidup kamu?” Kau mengunyah secuil ikan bakar. “Hidup itu beda sama ilmu matematika. Hidup kamu juga nggak bisa gitu aja dihabiskan hanya untuk mikir lalu menghitung cukup atau nggaknya kamu bisa membiayain hidup kamu.”
“Heh. Jangan pernah meremehkan ilmu matematika. Kamu tahu nggak sih, bahkan butuh berlembar-lembar kertas cuma untuk menjelaskan kenapa satu tambah satu sama dengan dua.”
***
“Kamu terlalu takut sama yang namanya keterasingan. Kamu takut ketemu sama orang asing. Kamu takut berada di tempat yang asing, kamu takut sama keadaan yang nggak biasa, yang nggak familiar. Tapi kamu tahu nggak? Terkadang kamu harus maksa buat lepas dari zona aman kamu. Suatu saat nanti, kamu nggak akan bisa berdiam di satu titik yang sama. Kamu harus menemukan titik lain, dan itu nggak akan bisa selama kamu takut untuk ketemu sama hal-hal yang asing.”
Kurang dari dua hari kita berada dalam posisi yang sama, di bias batas laut dan darat, kau sudah cukup mampu membaca, lalu dengan kurang ajar memaparkan padaku secara gamblang, seolah kau guru biologi yang tak merasa tabu menjelaskan apa itu alat kelamin dan bagaimana proses pembuahan terjadi.
Aku mengamatimu heran, lalu merasa tidak boleh kalah. “Oke Suhu, dan ternyata saya juga bisa baca kamu. Kamu adalah orang yang nggak suka keterikatan. Kamu lebih milih bebas, lalu berkeliling keluar dari zona amanmu, bertemu dengan begitu banyak hal asing, dengan hidup bebas dari rutinitas. Kamu takut berdiam dalam satu titik yang sama, dan lebih memilih loncat-loncat cari titik lain sampai kamu ngerasa nyaman. Tapi tahu nggak? Terus main loncat-loncatan itu nggak akan kasih kamu apa-apa.”
Kau tersenyum menatap laut. “Baik, kakak pertama. Hal pertama, apa yang kamu sebut dengan ‘main loncat-loncatan’ itu nggak seperti yang kamu pikir,” lalu kau menatapku lama, sebelum akhirnya kembali membuang pandanganmu ke perspektif lautan yang datar. “Orang datang dan pergi. Kita kehilangan lalu mendapatkan gantinya. Kalau saya tetap bertahan di posisi saya, saya akan selalu merasa kehilangan. Makanya saya lebih milih berpindah.”
Nadamu menurun. Raut wajahmu terlihat memurung.
“Terus ngebiarin orang lain yang akan kehilangan kamu?” Refleks gantian aku yang bersuara, lalu menyadari sebagian dari ucapanku keluar dengan nada tidak terima.
Kau menghela nafas panjang, lalu senyum tipis tersungging di wajahmu. “Saya itu cuma kayak kutu loncat. Dia tidak meninggalkan apa-apa, makanya nggak ada juga yang akan merasa ditinggalkan.”
Setiap hal selalu meninggalkan bekas. Termasuk seekor kutu loncat, kau hanya tidak tahu, karena kau tidak pernah ditinggalkan apapun dengan aktivitasmu ‘meloncat’.
Momentum Matahari terbenam pun tiba. Bulatan besar merah jingga itu akhirnya sampai di ujung laut yang tersembul bagai batas, lalu perlahan tenggelam di balik lautan.
“Tahu nggak?” Tiba-tiba kau menyela. ”Momen kayak gini udah biasa bagi saya dan kebanyakan orang disini. Tapi nggak tahu kenapa, momen ini selalu bisa membuat saya diam, sekian detik. Terus merenung. Seperti Matahari yang selalu kembali terbenam ke peraduannya, seperti burung camar yang selalu berbalik ke sarangnya saat malam hampir tiba. Setiap hal akan selalu pulang ke rumahnya, ke tempat dimana ia seharusnya tinggal.”
“Betul sekali.” Kataku. “Dan ternyata kamu bisa juga ya terbiasa dengan momentum yang sama setiap hari. Saya nggak tahu, gimana caranya kamu yang serba bebas dan serba loncat ini tiba-tiba sanggup terikat dalam sekian detik sama momentum sesederhana sunset.”
Kau tertawa pelan. “Dan ini lucu, gimana kamu yang hidupnya takut sama keterasingan, duduk disini, di atas pasir yang buat kamu lebih mirip sama serpihan kerikil, ngeliat momen yang nggak biasa dengan aktivitasmu sepanjang hari, apalagi sama orang asing yang bahkan belum genap dua hari kamu kenal.”
Aku tertawa tergelak. Pun juga denganmu. Langit menggelap. Matahari sudah kembali ke tempat peraduannya, menghilang dibalik lautan. Giliran bulatan kemuning yang tampil untuk menerangi bumi.
***








